Info Pondok
Jumat, 06 Nov 2026
5 November 2026

PP Al Amanah Bahrul Ulum Gelar Diklat Nasional Guru Al-Qur’an, Perkuat Kompetensi dan Adab Pendidik

Kamis, 5 November 2026 Kategori : Berita / Kegiatan

JOMBANG – Pondok Pesantren Al Amanah Bahrul Ulum menyelenggarakan Diklat Nasional Guru Al-Qur’an pada Rabu (4/11/2026). Bertempat di Masjid Al Bashiroh PP Al Amanah 2 Bahrul Ulum, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi, kinerja, serta kualitas kepribadian para pendidik Al-Qur’an, baik dari aspek lahir maupun batin.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh guru Al-Qur’an dari Jam’iyyah Tahfidzul Qur’an, Madrasatul Qur’an, Taman Pendidikan Al Qur’an PP Al Amanah Bahrul Ulum, serta guru Madrasah Ilmu Al-Qur’an.

Untuk memberikan penguatan keilmuan dan wawasan kepada para peserta, diklat menghadirkan dua pemateri, yakni Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H.I., Pengasuh PP Al Amanah 2 Bahrul Ulum, serta Ustadz Dzaniyal Muhammad Chubaibillah, S.H., Juara 1 Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Nasional tahun 2026.

Melalui kegiatan ini, para guru mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya adab seorang pendidik dalam menginspirasi murid, metode mendidik yang baik dan benar, serta penguatan kemampuan qiro’ah muwahhadah beserta pengembangannya.

Dalam penyampaian materinya, Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H.I. menyoroti pentingnya perbedaan karakter antara guru Al-Qur’an dan pendidik pada umumnya. Menurutnya, seorang guru yang mengajarkan Al-Qur’an harus mampu menunjukkan keteladanan melalui adab, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari.

Ia pun memberikan pesan khusus kepada para peserta agar senantiasa menjaga kehormatan profesi sebagai pengajar Al-Qur’an.

“Guru yang mengajarkan Al-Qur’an harus berbeda dengan guru yang tidak mengajarkan Al-Qur’an dalam segi adab, kelakuan, dan kebiasaan. Karena jejak (jasa) guru Al-Qur’an tidak akan terhapus oleh zaman, ia (jasa guru Al-Qur’an) akan terus mengalir dalam tiap huruf yang dibaca oleh murid-muridnya sampai yaumul qiyamah.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa pengabdian seorang guru Al-Qur’an memiliki nilai keberlanjutan. Ilmu yang diajarkan tidak hanya menjadi bekal bagi murid dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir selama ilmu tersebut diamalkan.

Sementara itu, Ustadz Dzaniyal Muhammad Chubaibillah, S.H. memberikan penekanan pada pentingnya menjaga kualitas bacaan Al-Qur’an, khususnya dalam penerapan qiro’ah muwahhadah.

Ia menganjurkan para guru agar membiasakan diri mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Syekh Mahmud Kholil Al Hussary. Menurutnya, bacaan tersebut merupakan cikal bakal qiro’ah muwahhadah sekaligus dapat melatih kepekaan pendengaran dalam mengenali kesalahan atau ketidaktepatan bacaan Al-Qur’an.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya membaca Al-Qur’an dengan logat atau dialek Arab. Hal tersebut sebagaimana dawuh Rasulullah SAW:

اقْرَؤُوا القُرْآنَ بِرُوحِ العَرَبِ وَأَصْوَاتِهَا

“Bacalah Al-Qur’an dengan ruh (dialek/karakter) orang Arab dan suara-suara mereka.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Menurutnya, pemahaman terhadap karakter pelafalan Arab menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan oleh para guru dalam membimbing bacaan Al-Qur’an para murid.

Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan fashohah yang dipimpin langsung oleh Ustadz Dzaniyal Muhammad Chubaibillah, S.H. Sesi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketepatan pelafalan dan kualitas bacaan Al-Qur’an para guru.

Selama kegiatan berlangsung, suasana diklat tampak lancar dan khidmat. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian serta menyimak secara saksama materi yang disampaikan oleh kedua pemateri.

Melalui Diklat Nasional Guru Al-Qur’an ini, PP Al Amanah Bahrul Ulum berharap para pendidik semakin memiliki kapasitas keilmuan, keterampilan mengajar, serta kualitas bacaan yang baik. Tidak kalah penting, para guru diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai adab dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi Qur’ani melalui keteladanan para pendidiknya.

(Red: Rayhan Rasyad)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar