Info Pondok
Sabtu, 03 Okt 2026
30 September 2026

Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi Tekankan Pentingnya Tasawuf bagi Generasi Muda

Rabu, 30 September 2026 Kategori : Berita / Kegiatan / Pengajian

JOMBANG — Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi, ulama asal Hadramaut yang dikenal sebagai pengajar ilmu agama sekaligus pemberi sanad keilmuan (ijazah), menyampaikan Mawaidh bertema “Pengenalan Tasawuf untuk Kalangan Pemuda” dalam Seminar Ilmiah yang digelar di Pondok Pesantren Al-Amanah 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad (27/9/2026) sore.

Dalam kesempatan tersebut, Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi menyampaikan pesan kepada para santri mengenai pentingnya ilmu tazkiyah atau tasawuf sebagai bagian dari upaya memahami hakikat ajaran Islam. Menurutnya, ilmu tersebut berkaitan dengan upaya memperbaiki hati, memusatkan pengabdian kepada Allah, serta menyucikan jiwa sebagai landasan dalam menjalankan amal-amal syariat.

Ia menjelaskan bahwa agama Islam memiliki tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan, yakni Islam, iman, dan ihsan. Ketiganya menjadi bagian penting dalam pengamalan agama dan menjadi tanggung jawab setiap Muslim untuk memenuhinya.

Salah satu pembahasan yang ditekankan adalah ihsan. Konsep ini berkaitan dengan kondisi seorang hamba ketika beribadah seakan-akan melihat Allah atau setidaknya menyadari bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah.

Pemahaman tersebut, memiliki keterkaitan erat dengan ilmu penyucian jiwa atau tasawuf. Karena itu, tasawuf tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan teoritis, tetapi juga memiliki hubungan dengan pembentukan hati dan kualitas amal seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Mawaidh tersebut, Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu fikih dan tasawuf. Ia menyampaikan:

“بلا تصوّفٍ ولا تزكيّةٍ وصفاء قلب قسوة و جفاء, وتصوّف بلا فقه إنحِراف وغلط الفِقْهُ”

Pesan tersebut menjelaskan bahwa fikih yang tidak disertai tasawuf, tazkiyah, dan kebersihan hati dapat kehilangan dimensi penghayatan spiritual. Sebaliknya, tasawuf yang tidak disertai pemahaman fikih juga dapat berpotensi menimbulkan kekeliruan dan penyimpangan dalam pengamalan agama.

Di penghujung Mawaidh, Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi mengingatkan para santri agar mampu memanfaatkan dan mengatur waktu selama menempuh pendidikan di pesantren.

Menurutnya, keberadaan para santri di pesantren membawa harapan besar dari masyarakat. Salah satunya adalah agar mereka tumbuh menjadi orang yang berilmu dan mampu memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Kalian ini datang dari berbagai daerah dan latar belakang, yang terpenting bagi kalian sekarang adalah bagaimana kalian dapat mengatur waktu sebaik mungkin”, ujar beliau.

Pesan tersebut menjadi bagian dari penekanan pentingnya memanfaatkan masa belajar di pesantren dengan sebaik-baiknya. Bagi para santri, waktu selama berada di lingkungan pesantren merupakan kesempatan untuk memperdalam ilmu sekaligus membentuk karakter dan kualitas diri.

Menutup Mawaidhnya, Sayyid Ahmad bin Musa Al Habsyi menyampaikan dua ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i dari ulama tasawuf. Ungkapan pertama berbunyi:

الْوَقْتُ سَيْفٌ، إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

“Waktu ibarat pedang, kalau kita tidak mematahkannya, kita yang akan dipatahkan.”

Ia kemudian menyampaikan ungkapan kedua:

نَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Jika diri kalian tidak kalian sibukkan dengan kebaikan, maka mereka akan menyibukkan kalian pada kejelekan.”

Dua ungkapan tersebut menjadi penutup Mawaidh sekaligus pesan kepada para santri agar mampu memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bernilai, khususnya dalam proses menuntut ilmu dan membentuk diri selama berada di pesantren.

(Red: Farah Zakia)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar