JOMBANG – Kemuliaan para penghafal Al-Qur’an atau hamalatul Qur’an menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Prof. Dr. KH. Agil Husin Al-Munawwar, M.A Al-Hafidz dalam Mauidhoh Hasanah pada acara Tasyakuran Wisuda Al-Qur’an Bil Ghoib Ke-XI dan Binnadhor Ke-XI Pondok Pesantren Al-Amanah dan PYI Al-Fattah.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Ahad pagi, 26 Juli 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al-Amanah 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Dalam tausiyahnya, Prof. KH. Agil Husin Al-Munawwar mengawali pembahasan dengan mengangkat pandangan sebagian orang yang mempertanyakan relevansi menghafal Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi digital.
“Apa gunanya kita menghafal Al-Qu’an dengan rentan waktu yang lama dan terbilang sulit di tengah era digitalisasi, dimana Al-Qur’an bisa di akses dengan cepat di mana pun dan kapan pun?”
Menurutnya, pandangan tersebut tidak sejalan dengan kedudukan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Keberadaan teknologi yang memungkinkan seseorang mengakses Al-Qur’an dengan mudah tidak mengurangi nilai dan kemuliaan orang-orang yang berinteraksi secara dekat dengan Al-Qur’an.
Ia kemudian mengingatkan salah satu hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik mengenai kedudukan ahlul Qur’an.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ»
Artinya: “Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah memiliki keluarga di antara manusia, yaitu para ahli Al-Qur’an (orang-orang istimewa Allah).”
Kemuliaan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an memiliki berbagai keutamaan, termasuk pahala bagi setiap huruf yang dibaca. Al-Qur’an juga menjadi kitab yang dapat dibaca, dipelajari, dan dipahami kandungannya.
Namun, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an Tetap Relevan di Era Digital
Prof. KH. Agil Husin Al-Munawwar juga menyoroti relevansi Al-Qur’an di tengah perubahan zaman. Menurutnya, keterbatasan jumlah ayat dan surat dalam Al-Qur’an tidak membuat pesan yang terkandung di dalamnya menjadi terbatas.
“Al-Qur’an merupakan sebuah karya yang abadi, tapi dengan penyajian dan pesan yang tetap actual, dengan ayat dan surat yang terbatas dan tidak banyak, Al-Qur’an telah menjadi pedoman untuk menyelesaikan semua problematika umat, pesan dan ilmu dalam al-Qur’an bagaikan lautan yang tidak bertepi. Begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan jati diri Al-Qur’an, tinggal bagaimana kita mampu mengamalkannya”, ungkap beliau.
Ia menggambarkan keluasan ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an seperti lautan yang tidak bertepi. Menurutnya, apabila seseorang hendak mendalami salah satu bidang ilmu yang terdapat di dalam Al-Qur’an secara keseluruhan, waktu kehidupan manusia tidak akan cukup untuk menuntaskannya.
Hal tersebut menjadi gambaran betapa luasnya kandungan ilmu dalam Al-Qur’an yang terus dapat dikaji dan dipelajari sepanjang kehidupan manusia.
Hamalatul Qur’an Bukan Sekadar Penghafal
Lebih lanjut, Prof. KH. Agil Husin Al-Munawwar menekankan bahwa predikat hamalatul Qur’an tidak cukup dimaknai sebagai seseorang yang mampu menghafalkan Al-Qur’an.
Di tengah banyaknya lembaga yang menyediakan program Tahfidzul Qur’an, menurutnya, hal yang lebih penting bukan semata-mata tempat seseorang menghafal Al-Qur’an. Esensi hamalatul Qur’an terletak pada kemampuan untuk menjaga hafalan, memahami pesan dan kandungan Al-Qur’an, serta mengimplementasikannya dalam kehidupan.
Kemuliaan para penghafal Al-Qur’an juga dapat dilihat dari berbagai peluang pendidikan yang tersedia. Salah satunya melalui program beasiswa di sejumlah perguruan tinggi yang memberikan jalur khusus bagi penghafal Al-Qur’an.
Tidak sedikit pula lulusan perguruan tinggi ternama yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik dan diketahui memiliki latar belakang sebagai penghafal Al-Qur’an.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi para wisudawan Al-Qur’an Bil Ghoib dan Binnadhor Pondok Pesantren Al-Amanah serta PYI Al-Fattah. Wisuda tidak semestinya menjadi titik akhir perjalanan bersama Al-Qur’an, melainkan menjadi momentum untuk semakin menjaga hafalan, memperdalam pemahaman, dan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, kemuliaan hamalatul Qur’an tidak hanya terletak pada kemampuan menyimpan ayat-ayat Al-Qur’an dalam ingatan, tetapi juga pada kesungguhan untuk menjaga Kalamullah, memahami kandungannya, dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan.
(Red: Tim Jurnalistik Al-Amanah)
Tinggalkan Komentar