Info Pondok
Selasa, 28 Apr 2026
17 Agustus 2025

Kiai Abdullah bin Nuh: Ulama, Sastrawan, dan Pejuang Kemerdekaan

Minggu, 17 Agustus 2025 Kategori : Karya Santri / Tokoh

Pada momen kemerdekaan NKRI yang telah menginjak 80 tahun ini, tentunya ada jasa para pahlawan dalam memperjuangkannya. Dan tak sedikit dari mereka yang berasal dari kalangan ulama dan santri. Mungkin yang selama ini kita ketahui dan sering kita dengar adalah Hadrotus Syeikh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Fattah Hasyim. Padahal masih banyak para pejuang kemerdekaan NKRI yang berasal dan kalangan santri dan ulama. Salah satunya adalah Kiai Abdullah bin Nuh.

Beliau memiliki nama asli Kiai Haji Raden Abdullah bin Nuh. Putra dan K.H.R Muhammad Nuh bin Muhammad Idris yang lahir di Cianjur 30 Juni 1905 ini dikenal sebagai sosok ulama yang berilmu, berpendidikan hingga seorang pendidik. Serta sastrawan yang produktif dalam menulis berbagai karya dalam baik dalam Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda bahkan juga menerjemahkan beberapa karya Imam Al-Ghozali. Diantara dari beberapa karya beliau adalah Kamus Indonesia-Inggris-Arab, Terjemah Kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghozali, Diwan ibn Nuh (kumpulan syair). Dan beliau juga pernah memimpin siaran menggunakan Bahasa Arab di RRI (Radio Republik Indonesia).

Kiai Abdullah bin Nuh sejak kecil mendapat pendidikan agama yang kuat dari Sang Ayah. Kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Syari’ah Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sepulangnya dan Mesir, beliau langsung terjun berkonstribusi pada masyarakat dengan mengajar di Cianjur dan Bogor. Serta mendirikan Majelis Al-Ihya’ di Bogor yang menjadi purat kegiatan dakwah dan pendidikan islam.

Tidak hanya itu, beliau juga berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan bergabung menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) pada 1943 untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Walaupun pada awalnya PETA dibentuk oleh Jepang untuk membantu mereka di perang dunia II. Pada akhirnya banyak anggota yang menjadi bagian dari pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau juga memimpin BKR dan TKR setelah proklamasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hingga pada akhirnya, pada tahun 1998-1950 beliau bergabung dalam KNIP DIY (Komite Nasional Pusat Daerah Istimewa Yogyakarta).

K.H.R Abdullah bin Nuh wafat di Bogor pada tanggal 26 Oktober 1987.  Berkat karya dan kontribusinya dalam pendidikan Islam dan kemerdekaan Indonesia, beliau menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dan dihormati.

 

Penulis : Farah Zakia

Tulisan Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar