“Ini pak uangnya,”
Pagi ini aku telah membeli buku Sejarah Indonesia-ku yang ke 25. Akhir-akhir ini aku memang sedang hobi membaca, terutama tentang Indonesia. Aku pulang dengan hati bak dipenuhi bunga, tanganku terasa gatal- tak tahan ingin membaca buku itu, dan bibirku terus komat-kamit mengingat materi sejarah yang telah kubaca kemarin malam. Sebegitu cintanya diriku dengan Sejarah Indonesia.
Sesampainya di rumah, aku menyiapkan tempat ternyaman untuk bersantai dengan buku baruku.
“Ting!”
Baru saja aku membuka halaman pertama, notifikasi dari hpku berbunyi. Awalnya aku acuh saja, tetapi setelah kusimak secara seksama, aku memutuskan untk membuka notifikasi itu.
“Korupsi, kasus narkoba di Indonesia, dampak buruk modernisasi telah bersinggah bahkan menetap di Indonesia. Wah… jumlah tiap harinya semakin bertambah! Jika terus dibiarkan Indonesia akan semakin lemah dan terus terjajah. Pengaruh hidup budaya luat pun juga bisa menjadi salah satu penyebab runtuhnya makna kemerdekaan.” Ucapku sembari melihat beberapa berita di layar ponsel.
Aku melamun, berusaha mencari solusi. Ditengah lamunanku, pandanganku terganggu oleh sekelompok orang diluar kamarku. Aku terus memperhatikannya dari balik jendela.
Aku tak puas. Aku segera beranjak keluar rumah untuk menemui sekelompok orang itu.
“Siapa kalian!?” tanyaku sinis.
Mereka tak menjawab. Salah satu lelaki berbadan tambun dengan kumis lengkung muncul dari tengah mereka. Tanpa aba-aba, lelaki itu mengenakanku topi dan rompi dengan corak hijau kecoklatan dan simbol bendera Indonesia terjahit di bagian dada.
“Kau siapa? Dan maksud ini semua apa?” tanyaku untuk kedua kalinya.
“Sudahlah, itu tak penting. Kami percaya padamu, tolong pulihkan Indonesia. Tak harus instan, karena semua itu harus bertahap dan perlu diperjuangkan. Nak, siapa lagi yang akan mengharumkan kembali kemerdekaan Indonesia kalua bukan generasi muda?”
Aku mengangguk seolah faham. Lelaki itu menjabat tanganku erat.
***
Udaranya begitu dingin, membuat sekujur tubuhku hampir menggigil. Aku terbangun. Tubuhku pegal-pegal. Aku Kembali teringat tentang lelaki itu. Dimana dia? Dan dimana topi serta rompiku? Aku seolah bertanya pada angin- tak ada yang menjawab. Aku tersadar bahwa itu hanya mimpi. Mimpi yang sangat bermakna.
Mulai hari ini aku memiliki misi untuk memulihkan Indonesia. Tak melihat apa kata mereka. Walaupun pasti harus membutuhkan waktu yang lama. Tetapi tekad memaksa untuk nekat. Segera pulih Indonesiaku. Hatiku untukmu.
Penulis : Ashfa Fakhrotun
Picture by : Pinterest
Tinggalkan Komentar