Gadis berekerudung salem itu hanya bisa menatapku dengan mata berair. Mungkin ini sungguh kejam. Bahkan ia harus berpuasa selama tiga hari hanya untuk sekedar membeli cilok di depan asrama. Sedangkan saat ini, aku dengan tega merampas buah tirakatnya, memakannya, lantas melempar bungkus cilok itu tepat di wajahnya.
“Heh, gadis miskin!! Kau adalah penghancur, perebut segalanya, kau merusak kebahagiaanku” Hardikku. Sementara gadis berkerudung salem itu hanya mampu terisak perih, sambil sesekali mengusap air matanya yng mulai berjatuhan.
“Aku tak pernah menginginkan ini mbak, jika boleh memilih, aku lebih senang tinggal di panti jika aku tahu aku akan menjadi perusak kebahagiaan mbak” Dia mecoba menjawab sambil sesenggukan.
“Beraninya kau berucap demikian, dasar gadis munafik, lihat saja pembalasanku” Aku berkata sambil berlalu meninggalkan gadis berkerudung salem itu.
***
Namanya adalah Afni. Bahkan seantero pesantren pun tahu jika gadis berkerudung salem itu adalah gadis panti beruntung yang diutus Abah Kyai nyantri di pesantren beliau. Tapi, ia bukan serta-merta nyantri dengan tanpa segan, sungguh ia tahu diri bahwa ongkos untuk masuk pesantren sangatlah besar. Maka, ia dapat sangunya itu dari upah menjadi buruh cuci di pesantren. Sedangkan biaya madrasah dan lainnya sudah menjadi tanggungan yayasan.
Sejujurnya, Afni itu santri yang sangat cerdas. Ia sungguh berbakat, tak pernah membuat ulah dan hampir semua orang di pesantren menyukainya. Namun, hal itu tak cukup untuk sekedar membuatku kagum pada dirinya. Aku membenci bibir merahnya, mata hitamnya, kulit putih meronanya, dan segala kesempurnaan dhahir bathin yang ia miliki. Aku benci semua itu. Segala kecantikannyalah yang membuat hidupku berantakan.
***
Dulu, aku adalah santri paling cantik di pesantren. Semua kejuaraan dan kontes kecantikan sudah kurampas gelar juaranya. Bahkan, banyak santri putra yang diam-diam menyuratiku atau hanya sekedar memberi hadiah kecil sebagai ungkapan rasa suka mereka padaku. Tapi, tetap saja, Kang Salim adalah yang nomor satu di hatiku. Dengan rahang tegas dan hidung mancungnya, supir kyai pula, siapa yang tidak terpikat pada santri idaman seperti itu.
Tapi itu dulu, sebelum tiba-tiba Abah Kyai mengumkan adanya anggota pesantren yang baru. Dialah Afni, gadis panti yang tanpa permisi merebut semua gelarku. Bahkan ia juga tanpa malu, memikat Kang Salim, supir Abah Kyai yang kutaksir sejak lama. Namun, yang paling menyakitkan adalah ia juga mampu merebut Ratna, sahabatku semnjak aku masih menjadi santri baru. Bahkan, lama-kelamaan, para santri mulai melupakan kehadiranku.
Mungkin bagi santri lain, Afni adalah sesosok purnama yang memberi kehidupan di dalam pesantren. Gadis berkerudung salem itu selalu menjadi idola yang dipuji-puji. Namun bagiku, Afni adalah seonggak sampah yang harus segera kusingkirrkan dari hidupku. Lihat saja, aku akan segera mengembalikan purnamaku. Aku akan kembali menjelma menjadi idola, bahkan melebihi ketenaran Afni.
***
Tepat malam jumat, saat semua orang terlelap akibat kelehan pasca roan kubro, akan kuluncurkan rencana yang kususun rapi-rapi semenjak sebulan terakhir. Semua akan berjalan lancar tanpa seorang pun yang tahu. Maka dalam sekejap, aku yakin, lambat laun, semua orang akan benci dengan nama itu.
Aku diam-diam memasuki kamar Afni saat ia dan kawan-kawannya tengah terhanyut dalam alam mimpi. Aku sudah menyiapkan sejak lama, bingkisan kresek hitam spesial yang kudapat dengan cara yang tak mudah. Perlu banyak perjuangan untuk mendapatkan kresek hitam itu, namun dengan baik hati, aku akan memberikannya pada Afni secara cuma-cuma. Aku meletakkan kresek hitam itu di sudut bawah lemari Afni. Aku yakin, gadis itu tak akan menyadarinya.
Sehari, seminggu, bahkan satu bulan semenjak kejadian itu, belum juga nampak tanda-tanda kelanjutan rencanaku. Tapi aku bersabar saja, toh, lambat laun, kresek hitam itu pasti akan menimbulkan reaksi besar.
Benar saja, satu hari sebelum diadakannya acara haflah besar tahunan, mendadak satu pesantren dihebohkan dengan pengecekan besar-besaran. Semua lemari digeledah, semua santri tak terkecuali, dibabat habis-habisan oleh pengurus keamanan. Semua santri hanya saling pandang heran, mencoba menerka apa yang menyebabkan penggeledahan akbar ini.
Tak lama kemudian, tepat setelah salah satu pengurus keamanan keluar dari komplek kamar Afni, semua santri dikumpulkan menjadi satu di aula. Tak lupa acara dadakan ini dihadiri pula oleh Abah Kyai, Ibu Nyai, juga kelima putra beliau. Mereka tampak tengah mendiskusikan suatu hal penting. Tak lama, Abah Kyai mulai berbicara.
“Nak, Abah dan Ibuk tak pernah mengajari keburukan pada kalian, terlebih lagi dosa mencuri dan menfitnah orang lain” Abah berhenti sejenak, menyisak raut wajah heran para santri.
“Abah sudah lama menyembunyikan hal ini, lama sekali, tapi begitu Abah tahu bahwa hal ini justru membawa mudharat bagi kalian, maka Abah terpaksa memberi tahu ini” Abah melanjutkan ucapannya sambil sesekalin mengusap mata beliau yang tarlihat sendu.
“ Lama sekali nak, selama Abah mendirikan pesantren ini, baru kali ini sejarah mencatat ada salah santu santri Abah yang berani mengambil cincin ibuk” DEG!! Seluruh santri beradu pandang. Saling curiga satu sama lain.
“ Majulah nak, bagi kalian yang merasa melakukan hal ini, silahkan maju ke depan. Abah tak akan pernah marah, namun hal ini harus menjadi pelajaran, terlebih bagi seluruh santri mengenai bagaimana pentingnya kejujuran” Abah berkata penuh wibawa. Sementara semua santri semakin menudih sana-sini. Selang lima menit, tak kunjung ada yang maju, Abah Kyai mulai berbicara lagi.
“Baiklah, kalu tidak ada yang merasa, beruntungnya putri bungsu Abah menyaksikan kejadiannya, juga seluruh bukti rekaman CCTV bahkan juga kresek hitam yang selama ini Abah dan Ibuk cari-cari” Deg!! Putri bungsu?? Sejak kapan abah punya seorang putri?? Semua santri semakin pandang heran.
“Silahkan kesini nak” Ucap Abah. Sejenak kemudian muncul seseorang dari balik pintu aula.
DEGG!! GADIS BERKERUDUNG SALEM ITU-
Karya: Mauritsa Ahsana Jinan
Tinggalkan Komentar