Info Pondok
Selasa, 28 Apr 2026
7 Juni 2025

Tunggangan ke Surga: Kambing atau Motor?

Sabtu, 7 Juni 2025 Kategori : Cerpen / Karya Santri

“Titt!!..” Ban sepedaku berdecitdi tanah halaman depan rumahku.
“Loh! Mengapa ada kambing didepan rumah, milik siapa?” ucapku sembari menggaruk tengkukku yang tak gatal. Aku turun daro sepedaku dan mengamati kambing itu.
“Siapa yang tak punya kerjaan! Sampai-sampai menaruh kambing disini? Kotorannya sangat mengotori rumah.” Kambing itu mendadak berjalan lebih dekat ke arahku. Aku terkejut dan berjalan mundur. Namun kambing itu tak dapat menggapaiku karena tubuhnya terikat pada pohon mangga besar.
“Aku ghonamim, salam kenal! Dan… siapa namamu?” Ucap Kambing itu.
“Aku Aisyah.” Jawabku singkat. Kambing itu mengangguk dan kembali melanjutkan aktivitas makan rumputnya. Begitu banyak rumput segar disekitarnya. Aku terdiam sejenak, dan kembali membuka suara.
“Ghonam, mengapa kau bisa kemari?” Tanyaku polos.
“Aku dibeli ibumu untuk dijadikan hewan qurban pada tanggal 6 Juni besok,” jelas Ghonamim.
“Qurban itu apa?” tanyaku kembali.
“Astaghfirullah… Jika aku menjelaskan pasti akan panjang. Intinya, nanti aku akan disembelih sebagai bentuk mengikuti tradisi Nabi Ibrahim.” Jawab Ghonam yang membuatku merasa kebingungan.
“Oh iya, hewan yang disembelih itu nantinya akan menjadi tunggangan menuju surga ketika di akhirat kelak,” sahutnya lagi dan aku hanya ber oh ria saja.

***

Keesokan harinya, seusai aku mengerjakan sholat dhuha. Aku dikagetkan oleh teriankan Ibu yang terdegar sampai kekamarku. Aku segera mengakhiri do’aku, melipat mukena dan segera ke sumber suara itu.
“Ya Allahhh… Kemana hilangnya kambingku?” ujar Ibu.
“Dan bagaimana bisa sepeda motor ini diikat di pohon seolah menggantikan kambing itu.” Susul Ibu dengan menunjuk ke arah sepeda motor dengan nada bingungnya.
“I-ibu mencari kambing?” tanyaku yang hanya dijawab anggukan pelan oleh Ibu.
“Kambingnya aku taruh di kandang kambing milik Pak RT. Dan yang mengikat sepeda motor itu aku Bu…” ucapku lalau Ibi menghampiriku.
“Aisyah sayang.. mengapa kambingnya ditaruh di kandang kambing Pak RT? Dan mengapa engkau mengikat sepeda motor di pohon?” tanya Ibu dengan nada lembutnya.
“Karena kata kambing itu Dia akan dijadikan hewan qurban, dan hewan qurban itu akan menjadi tunggangan di akhirat kelak. Agar perjalanan menuju surga cepat, maka dari itu aku mengganti kambing itu dengan sepeda motor.” Jelasku panjang lebar. Ibu mengelus dada perlahan.
“Astaghfirullahh.. Aisyah anak sholihahnya Ibu. Nak, sesuatu yang diqurbankan itu harus berupa hewan. Dan hewan itu juga tidak sembarangan. Hanya diperbolehkan pada unta, sapi dan kambing. Jadi, jika digantikan dengan sepeda motor boleh atau tidak?” tanya Ibu padaku.
“Tidak Bu,” balasku singkat.
“Nah.. nanti kau akan diajari gurumu tentang bab qurban. Sekarang, ayo kita ambil kambingnya!” ujar Ibu.
Setelah kambing kembali. Aku meminta maaf kepada Ibu.

***

“Prok, prok, prok.” Suara tepukan tangan memenuhi aula sekolahku.
“Demikian penampilan drama Dzulhijjah Berkah dari kami, semoga bermanfaat dan dapat menghibur para juri dan audience.” Ucapku. Setelah kembali ke balik panggung, aku segera mengganti kostum dan melaksanakan sholat dhuhur.
“Alhamdulillah Ya Allah. Semua berjalan dengan lancar.” Ucapku sebelum mengambil air wudhu.

 

Penulis : Ashfa Fakhrotun

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar