JOMBANG — Pondok Pesantren (PP) Al-Amanah 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi tuan rumah Gathering Perempuan Nahdlatul Ulama yang digelar Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), Jumat (28/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum deklarasi komitmen perempuan Nahdliyin dalam memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pesantren.
Mengusung tema “Bersama Membangun Pesantren yang Aman, Ramah Perempuan dan Anak”, kegiatan di PP Al-Amanah 2 Bahrul Ulum tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran Gerakan Fatayat Anti Kekerasan (FANTIK).
FANTIK diarahkan untuk memperkuat gerakan edukasi, pencegahan, perlindungan, pendampingan, dan advokasi terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Penguatan tersebut dilakukan antara lain melalui optimalisasi peran LKP3A serta bidang advokasi hukum Fatayat NU.
Anggota Bidang Hukum, Advokasi, dan Politik PP Fatayat NU, Eka Fitri Rahmawati, mengatakan pesantren perlu mendapat perhatian serius dalam upaya pencegahan kekerasan.
Menurut Eka, upaya pencegahan perlu diperkuat melalui edukasi tentang batasan diri, pengenalan berbagai bentuk kekerasan, keberanian untuk melapor, serta penyediaan lingkungan yang mampu menerima laporan tanpa memberikan stigma kepada korban.
Penguatan sistem perlindungan di pesantren juga mencakup kaderisasi, pendampingan, advokasi, mekanisme pelaporan, dan sistem perlindungan internal. Relasi kuasa serta budaya yang membuat santri takut berbicara menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, Ketua Majelis Alumni IPPNU, Prof. Dr. Siti Nur Azizah, S.H., M.H., menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam pendidikan sekaligus pembentukan karakter generasi muda.
“Sebenarnya, pesantren itu lembaga pendidikan yang strategis karena selain sebagai institusi pendidikan dan keagamaan, pesantren juga menjadi tempat pembentukan karakter bagi generasi muda. Ini adalah hal yang harus kita pertahankan,” ujar Prof. Dr. Siti Nur Azizah, S.H., M.H.
Forum yang berlangsung di PP Al-Amanah 2 Bahrul Ulum tersebut juga mendorong pesantren untuk terbuka terhadap persoalan kekerasan dan tidak bersikap denial. Pengakuan terhadap adanya kasus dinilai menjadi langkah awal untuk melakukan pembenahan sistem serta memperkuat perlindungan bagi perempuan dan anak.
Sebagai tuan rumah, Ibu Nyai Hj. Bashirotul Hidayah, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap komitmen yang telah dibangun dapat diwujudkan melalui langkah nyata secara bersama-sama.
“Semoga kita semua diberi kekuatan untuk melaksanakan komitmen dan program yang telah kita bentuk dan susun bersama,” ujar beliau sebelum membacakan doa penutup.
Pelaksanaan Gathering Perempuan NU di PP Al-Amanah 2 Bahrul Ulum Jombang diharapkan menjadi bagian dari penguatan peran pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi perempuan serta anak. Komitmen tersebut juga diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam sistem pencegahan, pelaporan, pendampingan, dan perlindungan yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Tinggalkan Komentar