Info Pondok
Selasa, 28 Apr 2026
22 April 2026

Langkah Kecil Rahajeng

Rabu, 22 April 2026 Kategori : Cerpen / Karya Santri

Di sebuah sudut Yogyakarta yang hangat oleh suara azan dan langkah para pelajar, berdirilah sebuah pesantren putri sederhana bernama Darul Hikmah. Di sanalah Rahajeng tinggal—seorang santri yang dikenal tenang, namun menyimpan tekad yang kuat dalam dirinya.

Namanya diberikan oleh ibunya dengan harapan: rahayu ing sajroning ajeng—keselamatan dalam niat yang baik. Sejak kecil, Rahajeng sudah akrab dengan huruf-huruf hijaiyah. Namun baginya, belajar Al-Qur’an bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan untuk memahami kehidupan.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun dari peraduannya, Rahajeng sudah duduk bersila di serambi mushola, membuka mushafnya perlahan. Suaranya lembut saat melantunkan ayat demi ayat. Ia tidak paling cepat dalam hafalan, tapi paling sabar dalam mengulang.

Di pesantren itu, tidak semua santri memiliki kesempatan belajar yang sama. Beberapa berasal dari keluarga yang masih memandang pendidikan perempuan sebagai hal sekunder. Ada yang sering dipanggil pulang, ada yang hampir berhenti karena tekanan keluarga.

Rahajeng melihat itu. Ia tidak marah, tapi ia merasa harus melakukan sesuatu.

Suatu hari, di perpustakaan kecil pesantren, ia menemukan buku tentang Raden Ajeng Kartini. Ia membaca kisah Kartini dengan perlahan—tentang surat-suratnya, tentang mimpinya agar perempuan bisa belajar, berpikir, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Rahajeng menutup buku itu dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam api kecil yang menyala dalam hatinya.

“Kalau Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan di zamannya,” gumamnya pelan, “lalu aku harus berbuat apa di zamanku?”

Sejak saat itu, Rahajeng mulai mengajak teman-temannya belajar bersama selepas isya. Bukan hanya mengaji, tapi juga memahami arti ayat. Ia membuat kelompok kecil, duduk melingkar di lantai, berbagi makna, saling bertanya tanpa takut salah.

Awalnya hanya tiga orang. Lalu lima. Lama-lama semakin banyak yang ikut.

“Ngaji itu bukan cuma biar bisa baca,” kata Rahajeng suatu malam, “tapi supaya kita ngerti arah hidup kita.”

Ada seorang santri bernama Siti yang hampir pulang karena diminta menikah muda. Rahajeng tidak langsung menentang, tapi ia mengajak Siti berbicara.

“Kamu punya hak untuk belajar,” ucap Rahajeng pelan. “Dan ilmu itu bukan penghalang, justru bekal.”

Siti terdiam lama. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa kuat.

Beberapa minggu kemudian, Siti tetap di pesantren.

Kegiatan kecil yang dimulai Rahajeng perlahan dikenal oleh ustazah. Alih-alih melarang, mereka justru mendukung. Pesantren mulai membuka kelas tafsir khusus untuk santri putri, sesuatu yang sebelumnya jarang diberikan secara mendalam.

Rahajeng tidak pernah merasa dirinya hebat. Ia hanya merasa melakukan hal yang seharusnya dilakukan.

Pada peringatan Hari Kartini, pesantren mengadakan acara sederhana. Tidak ada panggung megah, hanya tikar dan mikrofon kecil. Rahajeng diminta berbicara.

Ia berdiri dengan sedikit gugup, lalu menatap teman-temannya.

“Kartini memperjuangkan agar perempuan bisa membaca dunia,” katanya pelan tapi jelas. “Kita di sini, diberi kesempatan membaca firman Allah. Itu lebih dari cukup untuk mengubah hidup kita… dan mungkin hidup orang lain.”

Tidak ada tepuk tangan meriah. Tapi banyak mata yang berkaca-kaca.

Di malam itu, Rahajeng kembali ke mushola. Ia membuka Al-Qur’an seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, tapi sesuatu telah tumbuh—bukan hanya dalam dirinya, tapi juga di lingkungan sekitarnya.

Di kota Yogyakarta yang tenang itu, perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang ia hadir dalam suara lirih ayat suci, dalam lingkaran kecil santri, dan dalam keberanian seorang perempuan untuk terus belajar.

Rahajeng tahu, jalannya masih panjang.

Tapi ia tidak sendiri lagi.

pict by Pinterest

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar