Ungkapan “teknologi adalah realisasi dari sebuah kemustahilan” oleh penulis Darwis benar adanya. Saat ini, kita melihat apa yang dulu di khayalkan oleh nenek moyang manusia. Pengiriman super cepat, belanja virtual, bahkan lahirnya teknologi revolusioner seperti Artificial Intellegence (AI) secara langsung memengaruhi gaya hidup dan pola pikir publik. Media sosial sebagai sebuah platfrom penyebaran informasi menjadi sumbangsih terbesar atas perubahan tersebut. Beredarnya berbagai macam tren memunculkan spekulasi bahwa siapapun yang tidak mengikuti tren dianggap kurang update. Dan kali ini, tulisan ini akan lebih spesifik membahas mengenai pemberian gelar “kudet” secara sepihak terhadap kelompok, khususnya pesantren -yang sering kali dianggap tidak adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pesantren merupakan instansi pendidikan yang dikenal dengan metode pembelajaran yang cenderung mempertahankan gaya klasik. Penerapan kurikulum pesantren yang terkesan kaku tersebut membuat sebagian publik terjebak dalam pemikiran bahwa pesantren adalah penjara yang menahan santri dari kemajuan. Lantas, dati stigma-stigma diatas, benarkan pesantren adalah lembaga non dinamis yang menolak perubahan? Bagaimana cara pesantren menanggapi segala perkembangan dengan tetap mempertahankan kurikulum klasik? Untuk menjawab semua pertanyaan ini, kita perlu menafsiri makna update secara mendalam, serta melihat realita yang terjadi di pesantren dari kaca mata santri, bukan hanya berdasarkan isu yang beredar.
Istilah “update” sering kali dimaknai secara sempit sebagai pengetahuan terhadap apa yang sedang ramai diperbincangkan. Padahal, saat kita memperluas pandangan, istilah “update” tidak hanya berhenti pada pengertian tersebut.
Di pesantren, update sejati tumbuh dari jiwa yang ditempa sedemikian rupa. Secara kasat mata, santri memang dididik untuk belajar hidup sederhana yang tidak harus selalu terpapar kemajuan teknologi. Namun, sistem ini tidak bertujuan untuk menahan santri dari kemajuan, melainkan mengajarkan santri untuk menaikkan nilai moral di tengah arus degradasi, melatih ketenangan hati, dan mempertahankan keluhuran adab.
Ekosistem pesantren tidak hanya menawarkan pengajaran kitab kuning dan pelajaran agama. Lebih dari itu, ekosistem pesantren memberikan bekal kemasyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai sosial yang kelak bisa digunakan untuk berkiprah di Masyarakat. Dari pesantren, santri tumbuh tidak hanya secara intelektual, namun juga spiritual dan karakter sosial. Maka disinilah santri mengalami update yang sesungguhnya :update eksistensi diri.
Maka, berdasarkan seluruh realita yang terjadi, opini publik terhadap ke-kudet-an pesantren adalah suatu hal yang keliru. Terlebih, pesantren hari ini tidak hanya menyiarkan islam melalui cara tradisional, tetapi juga melalui media digital. Banyak kita temui, media-media pesantren yang menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah pengajaran secara online.
Pesantren tidak sepenuhnya menutup mata terhadap perkembangan zaman. Mereka memilih tren-tren yang berkembang: mana yang bisa diambil pelajaran, mana yang kurang bermanfaat? Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai moral dan sosial, pesantren sadar bahwa teknologi tidak hanya menjanjikan kemajuan, tapi juga melahirkan ancaman. Sekarang, pertanyaan paling krusial adalah bukan bagaimana cara berteknologi? Tapi bagaimana manusia tetap mempertahankan esensi kemanusiaan di tengah disrupsi digital? Maka pesantren hadir, melahirkan santri-santri yang berkualitas, yang dapat membentengi diri dari ancaman teknologi dengan nilai-nilai yang ditanamkan pesantren.
Penulis: Mauritsa Ahsana
Editor: Tim Jurnalistik PP Al-Amanah Putri
Tinggalkan Komentar