Info Pondok
Selasa, 16 Jul 2024
26 Juni 2024

Sedikit Cerita Bulan Dzulhijjah

Rabu, 26 Juni 2024 Kategori : Cerpen / Karya Santri

Pondok pesantren Al Jauhari Jakarta diasuh oleh Ibu Nyai Hj. Aisyah Syarifatul Khodijah. Beliau adalah orang yang sangat dicintai dan dihormati oleh santri-santrinya. Pada hari ini beliau berceramah tentang bulan Dzulhijjah. Apa sih keistimewaan di bulan Dzulhijjah? Mari kita mendengarkan ceramah beliau. Let’s Go!

مولاي صل وسلم دايما ابدا # على حبيبك خير الخلق كلهم”
هو الحبيب الذي ترجي شفاعته # لكل هول من الاموال مقتحم
“يارب بالمصطفى بلغ مقاصدنا # واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم

sambut para santri-santri Pondok Pesantren Al Jauhari dikala Ibu Nyai Hj. Aisyah rawuh. Beliau pun berjalan menuju sofa yang sudah disediakan oleh beberapa santri

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ” salam beliau dengan penuh lemah lembut

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas-balas santri

“Ayo berdoa, ” ujar beliau sembari menengadahkan kedua tangannya. Dengan rasa patuh para santri pun melantunkan doa secara bersama-sama

“Bismillahirrahmanirrahim, di sini Umi mau menjelaskan tentang bulan Dzulhijjah. Bulan Dzulhijjah adalah bulan akhir tahun agama Islam. Nak, kalian tahu tidak, kalau di dalam bulan Dzulhijjah pernah ada peristiwa yang sangat menakjubkan yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan anaknya yang bernama Nabi Ismail. Kalian tahu tidak?” tanya beliau kepada santri-santrinya

“Tidak tahu, Umi” jawab sebagian santri

“Ternyata banyak yang belum tahu, ya, tentang peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,” ujar beliau

“Ya, sudah. Kalau begitu Umi ceritakan, ya,” lanjut beliau seraya tersenyum

“Iya, Umi” seru seluruh santri

“Jadi ceritanya seperti ini, pada suatu malam ketika Nabi Ibrahim sedang tertidur, Nabi Ibrahim bermimpi sedang berada di suatu tempat yang di mana di tempat tersebut tidak ada satupun orang. Nabi Ibrahim pun bingung dan berkata “Dimana saya, ya Allah, tempat ini begitu sepi, tidak ada manusia satupun” ucap Nabi dengan rasa bingung yang menguasai beliau.

Namun tak berapa lama ada sebuah cahaya yang muncul di hadapan Nabi Ibrahim dan cahaya itu berkata “Wahai kekasihku. Sesungguhnya Aku adalah Allah yang ingin menyuruh dirimu untuk melaksanakan perintahku,” ucap Allah kepada Nabi Ibrahim

“Sesungguhnya Engkau ingin memerintah apa kepadaku, Ya Allah?” tanya Nabi Ibrahim dengan perasaan bingung

“Wahai Ibrahim. Aku memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu, Ismail,” ucap Allah kepada Nabi Ibrahim

“Mengapa, ya Allah mengapa harus anakku?” tanya Nabi Ibrahim dengan rasa terkejut

“Sembelihlah anakmu” perintah Allah dan tiba-tiba nabi pun terbangun dari tidurnya. Nabi Ibrahim terkejut dengan mimpi itu sampai membuat Nabi Ibrahim berkeringat dingin karena terlalu gelisah.

“Ya, Allah. Mengapa Engkau memerintahku untuk menyembelih anakku? Aku tidak tega. Ismail adalah anakku satu-satunya. Mengapa Engkau memerintahku seperti ini?” keluh Nabi Ibrahim seraya meneteskan air mata karena tidak tega dengan perintah tersebut.

Tak lama terdengar suara ketukan pintu. “Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Nabi Ibrahim dari dalam kamar.

“Ismail, Ayah” jawab Nabi Ismail dari luar

“Masuklah, nak” perintah Nabi Ibrahim

Nabi Ismail pun masuk dan terkejut karena melihat sangat ayah sangat gelisah.

“Assalamualaikum, Ayah. Sesungguhnya Ayah sedang dalam masalah apa?” tanya Nabi Ismail yang berdiri di hadapan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim pun tersenyum tipis dan berkata “sini, nak. Duduk di sebelah Ayah. Ayah ingin berbicara sesuatu padamu, “ucap Nabi Ibrahim seraya menarik pelan pergelangan tangan Nabi Ismail nabi Ismail pun duduk di sebelah sang ayah.

” Wahai, anakku. Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah. Bagaimana pendapatmu?” ucap Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail

“Wahai, Ayahku. Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orangnya sabar,” ucap Nabi Ismail seraya tersenyum tipis.

Akhirnya mereka berdua pun berserah diri dan Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail di atas pelipisnya seraya mengelus kepala putranya itu. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun pergi ke belakang rumah untuk melakukan perintah tersebut.

Nabi Ismail membaringkan dirinya sembari miring menghadap kiblat dan Nabi Ibrahim mengambil benda yang tajam.

Saat Nabi Ismail hendak disembelih, Nabi Ibrahim memberi putranya penutup mata. Begitu juga Nabi Ibrahim yang memejamkan matanya karena tak kuasa melihat sang anak. Akhirnya Nabi Ibrahim menguatkan tekadnya untuk menyembelih Nabi Ismail.

Sembari mengucap kata takbir, Nabi Ibrahim pun mulai menyembelih Nabi Ismail

“بسم الله الرحمن الرحيم. الله اكبر ٣× لا اله الا الله الله اكبر، الله اكبر، و لله الحمد”

ucap Nabi Ibrahim Seraya mengarahkan benda tajam itu ke leher Nabi Ismail.

Selesai menyembelih anaknya, Nabi Ibrahim tidak berani untuk membuka matanya. Namun tiba-tiba ada suara dari arah belakang “Ayah, kenapa tidak langsung dilakukan perintah Allah? Tidak usah ragu, Ayah” ucap Nabi Ismail. Nabi Ibrahim terkejut bukan main dan langsung membuka matanya. Beliau melihat apa yang disembelihnya. Ternyata yang disembelihnya tadi adalah seekor kambing jantan yang berukuran besar dan anaknya Nabi Ismail berada di belakang dirinya.

Tiba-tiba ada seseorang yang sangat tinggi dengan memakai pakaian berwarna hitam berkata “selamat sejahtera bagi Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dan kami tembus anak itu dengan seekor hewan sembelihan yang besar,” jelas orang tersebut yang ternyata malaikat yang diutus oleh Allah untuk memberi kabar baik kepada Nabi Ibrahim.

Jadi begitulah cerita tentang Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya sendiri dan kejadian ini juga diterangkan dalam Alquran surat As-saff ayat 102 – 107,” cerita beliau yang didengarkan oleh seluruh santri PP Al Jauhari

Setelah bercerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, beliau pun kundur karena ada tamu yang menunggu dan para santri kembali ke kamar mereka masing-masing.

 

Red : Kallista Rihadatul Aisy

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar