Info Pondok
Selasa, 16 Jul 2024
24 Februari 2024

Hadratussyeikh : KH. Hasyim Asy’ari, Aktivis & Ulama Warga Nahdliyin

Sabtu, 24 Februari 2024 Kategori : Artikel / Tokoh

Berdirinya Nahdlotul Ulama pada tahun 1926 di Indonesia telah menjadi penggugah semangat tersendiri bagi masyarakat pribumi khususnya bagi para priyayi dan juga kalangan santi. Nahdlotul Ulama sendiri merupakan sebuah wadah berkumpul bagi para ulama dan juga tokoh agama Indonesia. Nahdlotul Ulama berdiri tidak semata-mata karena ingin mengembangkan lslam berfaham Ahlusunnah wal Jamaah di tanah nusantara, namun juga untuk membangkitkan semangat para ulama dan para santri nusantara untuk terus berjuang dan membera NKRI. Jadi, Organisasi Nahdlotul Ulama’ dapat menyeimbangkan antara tujuan mendakwahkan Islam dan juga mencintai serta membela tanah air.

 

Dibalik berdirinya organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini, tentu ada beberapa tokoh yang mempelopori sekaligus menjadi penggagas untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan. Salah satu pelopor berdirinya Nahdlatul ulama adalah KH Hasyim Asy’ari, Tebuireng.

 

KH Hasyim Asy’ari merupakan putra ketiga dari pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah. Dari garis ibu beliau masih keturunan dari Sang Sultan Pajang, yakni Jaka Tingkir. Beliau lahir pada tanggal 14 Februari 1871 M di desa Gedang, Tambakrejo, Jombang.

 

Selaku putra dari kalangan priyayı dan pemuka agama di Jawa timur, Kyai Asy’ari kecil sudah di gembleng dengan ilmu agama oleh sang ayah, dan kakeknya, Kyai Utsman.

 

Sedari kecil beliau telah belajar berbagai macam cabang ilmu keagamaan termasuk ilmu Al-Qur’an, tafsir dan hadist.

 

Lantaran merasa belum puas hanya menimba ilmu pada sang ayah dan kakek Kyai Hasyim yang haus akan ilmu memutuskan untuk menuntut ilmu ke berbagai penjuru Nusantara. Tercatat beberapa pesantren yang beliau jadikan wadah mencari ilmu adalah Pesantren Trenggilis, Pesantren Kademangan dan Pesantren Siwalan.

 

Kyai Hasyim muda pernah merantau dan menimba ilmu ke tanah haram, Makkah. Beliau berguru pada Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mahfudh At-Tarmisi.

 

Setelah menimba ilmu di Makkah, Kyai Hasyim Asyari pulang ke tanah air dan kemudian menikah dengan Nyai Nafisah pada usia tahun 21 tahun. Bersama dengan sang istri, Kyai Hasyim Asy’ari mulai merintis sebuah pondok pesantren lembaga pendidikan, yakni sebuah pondok pesantren yang kemudian menjadi salah satu pondok pesantren terbesar di Indonesia.

 

Pada tahun 1899 M, beliau mendirikan pesantren yang diberi nama Tebu Ireng di daerah Jombang. Jumlah awal santri yang belajar pada beliau hanyalah delapan orang. Namun, sebagai Ulama’ terpandang di nusantara tentu tak sulit bagi beliau untuk mengembangkan pesantren tebuireng. Tak butuh waktu lama, pondok pesantren tebuireng berkembang pesat, dan memiliki ratusan hingga ribuan santri.

 

Kyai Hasyim Asyari merupakan pakar khusus keilmuan hadits. Beliau telah melalap habis kitabus-sittah, yakni enam kitab hadits yang cukup masyhur. Dari enam kitab tersebut, beliau telah menghafal ribuan hadits shohih dengan kesanadan yang jelas.

 

Selain mahir dalam ilmu hadits, kyai Hasyim Asy’ari juga mendalami ilmu akhlak dan adab. Dari sekian banyak karya beliau, ada beberapa karya beliau yang membahas hadits dan juga ilmu akhlak. Beberapa diantaranya yang membahas ilmu hadits adalah Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’iyah Nahdlotul Ulama’, dan Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Adapun karya beliau yang membahas ilmu adab adalah Adabul ‘Alim wal Muta’allim, dan Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Kitab-kitab beliau banyak dikaji oleh masyarakat dan dikaji di beberapa pondok pesantren.

Kyai Hasyim Asyari juga merupakan sosok kyai yang jugu aktif dalam organisasi baik organisasi keagamaan maupun organisasi pergerakan nasional.
Dalam sejarah NU, beliau adalah satu-satunya Rois Akbar karena setelah beliau tak ada lagi Rois Akbar yang ada adalah Rois ‘Am. Beliau memiliki gelar Hadratussyaikh yang berarti maha guru karena beliau pada saat itu menjadi pakar pusat ilmu bagi para ulama maupun santri dalam negeri.

 

Kyai Hasyim Asy’ari juga merupakan tokoh pergerakan nasional. Beliau mendapat gelar pahlawan nasional karena besarnya kontribusi beliau dalam kemerdekaan NKRI.

 

Kyai Hasyim Asyari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 dan dimakamkan di area pemakaman keluarga pondok pesantren Tebuireng. Sebagai organisator keagamaan dan tokoh pahlawan nasional yang mashur, hingga kini makam beliau masih sering dikunjungi olen para peziarah dari berbagai pelosok negeri. Nama KH Hasyim Asyari akan selalu terkenang sebagai sosok guru bagi umat islam di Indonesia. Khususnya bagi kalangan warga Nahdlatul Ulama. Beliau senantiasa menjadi Hadratussyaikh walaupun jasad beliau ada di dalam bumi, namun ruh beliau senantiasa berada dalam hati umat setiap umat Islam Indonesia.

 

Oleh : Mauritsa Ahsana Jinan

Penyunting : Tim Jurnalistik Al Amanah

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar