Info Pondok
Rabu, 17 Apr 2024
18 Agustus 2023

Perayaan Kemerdekaan, Penanaman Sikap Pahlawan

Jumat, 18 Agustus 2023 Kategori : Cerpen / Karya Santri

Hari kemerdekaan republik Indonesia ke-78 telah tiba dan warga Desa Tambakrejo sedang mengadakan perlombaan untuk merayakan kemerdekaan tersebut. Terdapat beberapa perlombaan yang dapat diikuti mulai dari kalangan anak-anak remaja sampai kalangan orang tua. Mereka mengikutinya dengan rasa semangat kemerdekaan dan rasa bangga karena dapat merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-78.

 

Galang, Ucup, Ucok, Sari dan Laras sedang mengikuti perlombaan memasukkan paku kedalam botol. Sebelum memulai, Kak Rohman selaku juri perlombaan tersebut mengumumkan peraturan perlombaan agar tidak ada kecurangan yang dilakukan oleh peserta lomba.

 

“Adik-adik, paku tidak boleh dipegang dengan tangan, ya. Kalau sampai ada yang ketahuan memegang akan di diskualifikasi. Siap adek-adek?” tanya Kak Rohman.

 

“Siap, Kak Rohman” jawab para peserta serentak. Setelah memberi pengumuman perlombaan, Kak Rohman pun memberi aba-aba dengan memulai hitungan mundur.

 

“Adik-adik, ayo kita hitung mundur bersama, ya. Tiga,,, dua,,, satu. (priiit)”

 

“Ayo! Ayo! Ayo! Ayo !” Seru penonton menyemangati. Sorak penonton membuat suasana malam semakin ramai dan seru.

 

Sementara itu ditengah-tengah peserta,

 

Galang : “aduh susah banget sih paku ini buat masuk ke botol” (keluh Galang kesal karena paku tidak bisa tenang)

 

Sari : “iya pakunya dari tadi goyang mulu. Nggak bisa tenang”

 

Laras yang mendengar ocehan tersebut pun kesal karena mengganggu konsentrasinya.

 

Laras : “Ih, kalian jangan ngoceh mulu. Aku jadi nggak konsentrasi, nih” (omel laras dengan nada kesal).

 

Tanpa sepengetahuan mereka, Ucup diam-diam melakukan kecurangan. Tetapi hal itu dengan cepat disadari oleh si Ucok. Akhirnya Ucok pun berteriak,

 

“Ucup curang, Kak”

 

“Nggak, Kak. Dia bohong. Ucup nggak curang,” elak ucup

 

“Enggak, Kak. Jelas-jelas Ucok lihat sendiri, Ucup pegang pakunya terus dimasukkan ke botol. Ucup curang, Kak.”

 

Kak Rohman pun menghampiri mereka untuk melerai pertengkaran tersebut dan dengan terpaksa perlombaan dihentikan sejenak.

 

“Udah jangan bertengkar. Lebih baik kita selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan,” ujar Kak Rohman. Akan tetapi Ucok dan Ucup tak menghiraukan nasihat Kak Rohman. Akhirnya Pak Ganjar selaku kepala desa menghampiri mereka.

 

“Ucok ! Ucup ! kalau kalian bertengkar, nggak bakal bisa menyelesaikan masalah. Yang ada malah mempersulit masalah ini. Lagian sekarang ini adalah hari dimana Indonesia meraih kemerdekaannya. Seharusnya kalian menanamkan sifat-sifat kepahlawanan di diri kalian. Salah satunya menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan, jujur dalam bertindak dan bijak dalam mengikuti perlombaan ini. Bukan malah bertengkar,” nasehat Pak Ganjar.

 

Mendengar itu, Ucok dan ucup pun saling bertatapan, menyadari kesalahan yang mereka buat dan saling meminta maaf.

 

“Ya sudah. Sekarang, kita ulang perlombaan ini dengan syarat ucup didiskualifikasi, sesuai dengan peraturan yang ada, ya. Dengar adik-adik?” Tanya Kak Rohman,

 

“Iya, kak” jawab mereka. Dengan berat hati Ucup pun keluar dari perlombaan tersebut dengan beberapa penyesalan yang digerutui olehnya. Perlombaan akhirnya dimulai kembali dengan iringan sorakan semangat yang diberikan oleh penonton yang melihat lomba itu.

 

Oleh : Salwa Shofarotuz Zahro

Editor : Tim Jurnalistik Al Amanah

Tulisan Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar